Oleh: Dicky Bisinglasi | PFI Malang
Seekor Paus Sperma (Physeter macrocephalus) ditemukan terdampar dalam kondisi hidup di wilayah Selat Bali, tepatnya di Pantai Bulusan, Kecamatan Kalipuro, Banyuwangi, Jawa Timur, Indonesia pada 1 Agustus 2022 sore. Paus itu kemudian mati pada malam harinya, setelah nelayan, warga dan petugas terkait berusaha mengembalikannya ke laut.
Keesokan harinya, bangkai paus tersebut berusaha dievakuasi dari pantai dengan berbagai cara. Mulai dari ditarik dengan menggunakan seling truk derek, hingga wacana ditenggelamkan ke laut yang lebih dalam dengan ditarik menggunakan tugboat atau kapal tunda. Namun, karena ukurannya yang mencapai 20 meter dan beratnya yang diperkirakan 30 ton, semua usaha itu gagal. Juga dikarenakan tidak ada teknologi lebih efektif yang dapat didatangkan ke lokasi karena akses yang tidak memungkinkan.
Akhirnya, para petugas terkait memutuskan untuk mengurangi berat dan ukuran bangkai paus tersebut dengan memotongnya menjadi beberapa bagian. Harapannya lebih mudah dipindah untuk dievakuasi. Pihak berwenang kemudian membentuk satu tim evakuasi yang berasal dari unsur Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat. Mereka mempersiapkan diri dengan menggunakan kostum khusus yakni Alat Pelindung Diri (APD) berupa baju hazmat, kacamata, dan masker. Mereka juga mempersiapkan alat-alat yang diperlukan seperti gergaji mesin, pisau, dan pedang. Mereka mencoba segala cara yang memungkinkan untuk dapat memotong bangkai paus menjadi bagian yang lebih kecil, namun usaha mereka hampir tidak mungkin karena teknologi yang digunakan tidak sebanding dengan ukuran paus tersebut.
Sebagai hasil awal, petugas berhasil memotong rahang bawah paus. Sebuah ekskavator kemudian digunakan untuk memindahkannya ke darat. Setelah itu, mahasiswa dari Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Airlangga Surabaya yang bertempat di Banyuwangi, ikut terjun untuk mengambil sampel pada bagian rahang, untuk diteliti di laboratorium untuk mencari sebab mengapa paus tersebut terdampar dan kemudian mati. Usaha evakuasi pun harus terhenti malam itu karena keterbatasan sumber daya manusia.
Bangkai paus memulai tahap pembusukan berikutnya pada keesokan harinya. Perut paus meledak setelah pada hari sebelumnya petugas berhasil membuat lubang pada bagian perut untuk mengeluarkan jeroan paus tersebut. Ledakan itu membuat sebagian besar organ dalam paus terburai keluar. Darahnya menciptakan warna merah yang cukup masif pada air laut di sekitarnya sekaligus menciptakan gradasi warna antara tosca, warna laut, dan merah karena darah.
Menurut Kepala Dinas Perikanan Banyuwangi, Alief Rachman Kartiono, bangkai paus itu akhirnya berhasil ditarik dan dikuburkan ke darat pada hari ke-7 setelah kematiannya, pada 7 Agustus 2022. Dimana tingkat pembusukannya sudah mencapai tahap akhir sehingga volume tubuhnya berkurang drastis.
Paus Sperma adalah Cetacea bergigi terbesar di dunia, menurut data International Whaling Commission (IWC). Ia juga memiliki kepala dan otak terbesar dari semua hewan di bumi. Paus Sperma secara historis sempat diburu secara besar-besaran. Sekarang mereka terdaftar dengan status “Rentan” di Daftar Merah Spesies Terancam Punah, International Union for Conservation of Nature (IUCN).





Discussion about this post