Fotojurnalistik di dunia sudah muncul sejak lama, tetapi lain halnya dengan Indonesia. Foto pertama yang dibuat oleh warga Indonesia terjadi pada detik-detik saat bangsa ini berhasil melepaskan belenggu dari rantai penjajahan. Alex Mendur yang bekerja sebagai kepala foto kantor berita Jepang, Domei, dan adiknya Frans Sumarto Mendur mengabadikan peristiwa pembacaan teks proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, dan pada moment itulah, tepat pada jam 10 pagi tanggal 17 Agustus 1945, seorang fotojurnalis dari Indonesia lahir.

Organisasi pewarta foto sebelumnya pernah terbentuk dengan memiliki nama Fokus, dideklarasikan pada tanggal 22 Maret 1992.

Seiring berjalannya waktu, bertepatan dengan peristiwa reformasi Mei 1998, rezim kekuasaan orde baru tumbang. Hal itu membawa pengaruh terhadap kebebasan pers di Indonesia. Penghapusan kewajiban mendapatkan Surat Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP), serta adanya jaminan kebebasan pers oleh Undang-undang mendorong munculnya penerbitan media baru. Hal itu berbarengan pula dengan menambahnya jumlah pewarta foto di Indonesia.

Namun dalam perjalanannya, kebebasan pers tidak mendapatkan perlindungan yang menyeluruh. Kekerasan terhadap pewarta foto seakan mustahil terhindarkan, apalagi profesi pewarta foto mengharuskannya berada di barisan depan untuk dapat mengabadikan peristiwa sebagai ujung tombak media, pewarta foto tidak jarang harus berhadapan langsung dengan sumber konflik saat bertugas di lapangan, baik yang dilakukan oleh oknum aparat keamanan maupun oknum masyarakat.

Organisasi Pewarta Foto Indonesia (PFI) memiliki kepentingan untuk melindungi pewarta foto sebagai sebuah profesi yang terhormat, memiliki keterampilan khusus dan mengemban peran sebagai perekam sejarah serta menyiarkan foto berita dan tulisan seluas-luasnya bagi kepentingan masyarakat, baik melalui media massa maupun jaringan-jaringan mandiri.

PFI kini telah terverifikasi oleh Dewan Pers, tepat pada usianya yang ke-22. PFI juga telah legal di Kementerian Hukum dan HAM. Memiliki perwakilan di 19 wilayah, PFI juga menjadi wadah berkumpulnya pewarta foto di Indonesia. Organisasi nirlaba ini terus berupaya menegakan standar etika dan profesi pewarta foto. Lebih dari 600 pewarta foto tercatat sebagai anggota organisasi yang terus berkembang ini. Beraneka kegiatan yang bermanfaat dalam mengembangkan kratifitas pewarta foto maupun pendekatan yang bersifat edukatif kepada masyarakat secara berkala diselenggarakan PFI di berbagai wilayah.

Karena selain berfungsi untuk melindungi hak asasi dan profesi pewarta foto, PFI terus berusaha meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap profesi dan karya pewarta foto melalui kegiatan pendidikan seperti mentorship, pelatihan, maupun kegiatan pameran, penerbitan, sosial dan penghargaan.

Author