50 Tahun Tidak Dipentaskan, Wayang Topeng Menak Malang yang memuat Syiar Islam Bangkit Kembali
Ratusan orang menjadi saksi kebangkitan kembali Wayang Topeng Menak Malang yang memuat syiar Islam setelah 50 tahun tidak dipentaskan dalam Burak Buwana Menak di Ponpes Karanggenting, Merjosari, Kota Malang, Sabtu (9/8/2025) malam.
Pertunjukan ini menjadi momen bersejarah. Diinisiasi Lesbumi Kota Malang dan didukung lintas sanggar dari Kota dan Kabupaten Malang, para seniman dan budayawan Malang Raya bergotong royong merekonstruksi bentuk pertunjukan yang lama tenggelam dari panggung budaya.
Sejarawan Malang, Dwi Cahyono, menyebut Lakon Menak sebagai cerita yang berakar dari Persia dan bertransformasi dalam kebudayaan Jawa. Pada awal 1900-an hingga masa awal Kemerdekaan RI, lakon ini pernah berkembang dan populer sebagai bagian dari Wayang Topeng Malang, sebelum akhirnya berhenti dipentaskan.
“Setelah setengah abad, salah satu varian Wayang Topeng Malang yang berdasarkan lakonnya, yaitu Menak, hingga disebut Wayang Menak untuk kali pertama dipentaskan kembali,” ungkapnya sebelum pementasan dimulai.
Namun kebangkitan ini, menurutnya, masih berada pada tahap awal. “Jujur, apa yang dipentaskan malam ini barulah pementasan embrional. Saya menggunakan istilah embrional karena sesungguhnya dibutuhkan penelisikan, dibutuhkan upaya untuk mencari, melacak, dan menemukan kembali hal yang saya istilahi dengan ekosistem Wayang Topeng Menak Malang,” ujarnya.
Upaya rekonstruksi bukan perkara mudah. Kini hanya tersisa sedikitnya tiga pelaku lama Wayang Topeng Menak Malang, dan seluruhnya telah berusia lanjut. Sementara itu, pertunjukan wayang topeng bukan sekadar aksi individu, melainkan sistem kesenian yang melibatkan dalang, penari topeng, penabuh gamelan, hingga tata panggung.
“Pelestarian Wayang Topeng Menak Malang dalam kondisi sekarang, saya istilahi dengan ikhtiar yang darurat. Ibarat kapal, kalau tidak segera ditindaklanjuti karena kondisinya sudah SOS, Wayang Topeng Menak Malang akan tenggelam,” tegasnya.
Dari sisi narasi, Lakon Menak memuat syiar Islam melalui tokoh utama Amir Hamzah yang dalam tradisi Jawa dikenal sebagai Wong Agung Menak atau Jayengrono. Kisah ini berlatar era kenabian, menghadirkan nilai perjuangan, dakwah, dan keteladanan.
“Kisah ini memberikan gambaran syiar Islam. Kami berharap Wayang Topeng Menak Malang dihadirkan sebagai sebuah tontonan sekaligus tuntunan, sehingga Wayang Topeng Malang ini menjadi komplit. Tidak hanya menyajikan Lakon Panji, tidak hanya memiliki Lakon Purwa, tetapi juga mempunyai Lakon Menak,” kata Dwi.
Dalam pentas Burak Buwana Menak yang didalangi M. Anwar dari Jabung, penonton disuguhi perjalanan Amir Ambyah, nama lain Amir Hamzah dari Kadipaten Mekah yang berperang melawan Negeri Yaman. Pentas ini juga mengisahkan kemenangan Wong Agung Menak Jayengrono dalam sayembara Prabu Nursewan hingga akhirnya mempersunting Dewi Muninggar.
Kebangkitan Wayang Topeng Menak Malang malam itu turut disaksikan Dirjen Kementerian Kebudayaan RI, Ketua DPRD Kota Malang, Ketua Lesbumi, serta para seniman dan budayawan Malang Raya—menjadi penanda bahwa warisan budaya yang lama terpendam kini kembali menemukan panggungnya.















