Photo of The Year 2025
Oleh: Iqbal Lubis | PFI Makassar
Seperti kiamat yang berlangsung perlahan, waktu demi waktu. Bagaimana hilirisasi nikel meninggalkan dampak yang menghancurkan bagi warga rentan di Kabupaten Bantaeng?
Balla Tinggia, Mawang, dan Borong Loe, tiga desa di Pa’jukukang, salah satu kecamatan di Kabupaten Bantaeng, telah diselimuti debu sejak 2019. Debu ini berasal dari cerobong asap dan aktivitas smelter nikel di Kawasan Industri Bantaeng (KIBA), Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan, Indonesia. Warga menderita pusing, mual, dan muntah. Tidak ada pemeriksaan kesehatan yang menyeluruh. Pada akhirnya, keluhan-keluhan ini menjadi hal biasa, dan warga dengan pasrah menganggapnya sebagai kebiasaan yang harus diterima.
“Kalau orang baru datang, pasti mual karena baunya. Pusing karena debu,” kata beberapa warga yang saya temui. “Tapi mungkin kami sudah terbiasa.” Saya mengunjungi desa-desa ini pada awal Agustus 2024. Di sini, rumah-rumah tampak sangat kotor. Atap, jendela, lantai, dinding, perabotan, pakaian, kasur—semuanya berubah menjadi merah. Debu seakan menyusup ke setiap celah.
Tanaman juga ikut rusak. Pohon mangga berhenti berbuah. Sayur kelor yang tak lagi bisa dikonsumsi. Pisang yang buahnya rusak. Pohon asam yang mati. Padi yang gagal panen. Jagung yang tak bisa berbuah.
Segalanya terasa semakin sulit. Beberapa warga bekerja di perusahaan sebagai buruh tingkat rendah dengan gaji bulanan antara Rp5 juta hingga Rp7 juta. Namun, upah ini tidak sebanding dengan kehidupan yang mereka jalani. Sebab, segala kebutuhan kini memerlukan banyak uang.
Halaman rumah mereka yang luas, yang seharusnya bisa digunakan untuk menanam sayuran seperti cabai, singkong, kelor, dan daun sup, kini telah mati. Sumur tanah yang menjadi sumber air utama juga telah mengering. Bahkan sungai kecil di Borong Loe, yang biasanya digunakan sebagai tempat minum ternak, kini tak lagi bisa diandalkan karena di waktu tertentu airnya menjadi sangat panas.
KIBA menjadi lokasi bagi enam pabrik pengolahan nikel milik Huadi Group, sebuah perusahaan pengelolaan nikel dari Shanghai, Tiongkok. Keenamnya adalah:
Keenam perusahaan ini mengolah bahan baku bijih nikel dari tambang yang berada di Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, dan Pulau Kalimantan.
Jakarta – Anugerah Pewarta Foto Indonesia (APFI) 2026 resmi menghadirkan jajaran juri yang terdiri dari tokoh-tokoh berpengalaman di bidang fotojurnalistik,...
Panitia Anugerah Pewarta Foto Indonesia (APFI) 2026 secara resmi telah merampungkan proses verifikasi administrasi terhadap seluruh karya yang didaftarkan. Tahapan...
50 Tahun Tidak Dipentaskan, Wayang Topeng Menak Malang yang memuat Syiar Islam Bangkit Kembali Ratusan orang menjadi saksi kebangkitan kembali...
Pewarta Foto Indonesia (PFI) merupakan organisasi wartawan yang terdaftar di Dewan Pers melalui SK Dewan Pers nomor: 19/SK-DP/III/2020.
PFI juga merupakan lembaga Uji Kompetensi Wartawan berdasarkan SK Dewan Pers nomor: 24/SK-DP/IV/2022.
Selain itu, PFI terdaftar di Kemenkumham dengan nomor: AHU-0000317.AH.01.08.Tahun 2020.
Discussion about this post