Shadow of the Unseens

Oleh: Ivan Dwi Kurnia Putra/Balik Layar Mentorship

Mulanya mereka mengira bahwa gereja akan melindunginya dari segala mala dan bahaya. Mereka tak pernah tahu, jika kelak, agama kemudian turut ambil bagian dan membuat hidup semakin terpuruk. Karena dianggap orientasi seksualnya menyimpang, mereka dicibir, didiskrimansi serta menjadi sesuatu yang ‘asing’ oleh institusi sakral yang mulanya mereka kira adalah tempat perlindungan.

Kemudian, mereka mulai mengumpulkan kegelisahan yang terserak dan menginisiasi ruang aman secara mandiri. Persekutuan Hidup Damai Kudus (PHDK) telah bertahan hingga tiga dekade. Setelah PHDK berdiri, Handayani kemudian melakoni syiar. Ia menginspirasi kota-kota lain untuk menciptakan inisiatif serupa. Sebagian tumbang dan gulung tikar. Sebagian lain, bertahan hingga sekarang. PHDK tercatat sebagai inisiator sekaligus gereja transpuan tertua yang ada di Indonesia.

Jumlah jemaat gereja PHDK tidak banyak. Gereja ini hanya memiliki anggota kurang dari 40 orang. Sebagian dari mereka telah berusia paruh baya. Mayoritas dari mereka menarik diri dari jalanan, berhenti melakukan praktik prostitusi, dan menempuh jalan lain untuk melanjutkan hidup. Sebab, menjadi seorang transpuan di usia paruh baya, dan pekerja seks, adalah minoritas berlapis yang meletakan mereka pada situasi yang makin pelik.

Jemaat PHDK rela menempuh perjalanan puluhan kilometer, dari kota-kota di sekitar Surabaya, seperti Mojokerto, Malang, Blitar, dan Pasuruan karena hanya di tempat inilah mereka bisa merayakan ibadah mingguan dengan rasa aman, tanpa khawatir dibubarkan.

Proyek foto ini tak hanya merekam apa-apa yang berkelindan di sekitaran gereja, tapi juga memotret keseharian anggotanya yang memiliki latar belakang yang beragam. Shadow of the Unseens berusaha mengangkat kerentanan transpuan, sekaligus upaya mereka bertahan menghidupi hidup secara mandiri. Juga merekam pergulatan perjalanan mereka mencari Tuhan.

 

*Foto cerita ini merupakan hasil program Balik Layar Mentorship selama Desember 2021 hingga Juli 2022 dengan dukungan dari Pewarta Foto Indonesia

Profil Fotografer:

Ivan Dwi Kurnia Putra, seorang jurnalis foto asal Surabaya. Pada 2016, ia memulai karier secara profesional untuk salah satu rubrik anak muda di harian Jawa Pos. Ia menjadi salah satu fotografer untuk DBL Indonesia, liga basket pelajar terbesar di Indonesia, pada 2019. Beberapa karyanya telah diterbitkan oleh Vice, Asian Democratic, New Naratif, The Jakarta Post dan Jawa Pos.

Instagram: @Ivandarski

Leave a Reply

Your email address will not be published.