INE KEWE

Oleh: Riska Munawarah/Balik Layar Mentorship

Di wilayah Bener Meriah, salah satu daerah penghasil kopi Arabika terbaik di Indonesia, para petani kopi berjuang dan beradaptasi dengan perubahan iklim. Banyak dari petani ini yang tidak mengetahui kenapa produksi kopi mereka turun. Murniati (80), bahkan tidak tahu apa penyebab tanaman kopinya akhir-akhir ini banyak yang rusak.

“Saya harus membersihkan tanaman-tanaman yang rusak ini,” katanya sambil memotong beberapa dahan tanaman kopi yang sudah mengering. Beberapa buah kopi di kebun Murniati juga busuk akibat serangan hama. “Kami gagal panen musim ini,” keluhnya. Dulu produksi kopi miliknya bisa sampai 200 kaleng sekali panen. Namun, kini hanya berkisar 70 kaleng.

Tetangganya, Win Irbi, juga mengeluhkan hal yang sama. “Sekarang kami sering mengalami kerugian akibat cuaca,” katanya. Perubahan cuaca yang tidak dapat diprediksi membuat petani selalu khawatir akan gagal panen. Petani kopi Gayo merupakan populasi rentan yang hidup di garis depan perubahan iklim. Win Irbi mengatakan lebah-lebah yang membantu penyerbukan tidak lagi hinggap karena curah hujan yang sangat tinggi saat musim penyerbukan tiba.

Sebaliknya, ketika petani membutuhkan hujan, musim justru berganti menjadi kemarau. “Kami harus menarik air dari gunung dengan selang,” ujarnya. Perubahan musim yang tak terduga selalu menjadi masalah bagi petani kopi di sini. Pada sisi lain, di saat panen yang seharusnya cuaca panas, ternyata hujan turun terus menerus yang menyebabkan biji kopi tidak bisa dijemur dengan baik. Jika terjadi kondisi seperti ini petani biasanya melakukan fermentasi biji kopi ke dalam air sampai matahari muncul. Biasanya fermentasi ini dilakukan selama dua atau tiga hari.

Intergovernmental Panel on Climate Change menyebutkan salah satu fenomena anomali iklim   yang mempengaruhi produksi kopi adalah El Nino Southern Oscillation (ENSO). Pengaruh ENSO lebih kuat di daerah tropis yang juga merupakan kawasan penghasil kopi dunia. Fase hangat  ENSO, yang dikenal sebagai El Niño, menyebabkan musim kemarau lebih panjang 2-4 bulan dari kondisi normal. Panjangnya musim kemarau ini menyebabkan menurunnya produksi kopi. Daun dan ranting mengering, biji kopi menjadi kosong.

Selain itu, musim hujan dengan durasi lebih panjang dari biasanya juga menurunkan proses persarian bunga kopi hingga 95 persen. Sehingga populasi tanaman yang produktif lebih rendah. Perubahan iklim menyebabkan kenaikan suhu yang akan menurunkan laju pertumbuhan, pembungaan, dan pembuahan tanaman kopi. Padahal, Kementerian Pertanian menargetkan produksi kopi pada 2019 sebesar 0,79 juta ton. Namun, angka tersebut belum tercapai. Kenaikannya hanya 1-2 persen per tahun.

Perubahan iklim pada sisi lain juga akan mempengaruhi luasan lahan untuk tanaman kopi di masa depan. Masalah produktifitas juga mempengaruhi luas cakupan hutan Gayo. Petani cenderung membuka lahan baru di atas ketinggian rata-rata untuk menanam kopi Arabika. Kebun lama yang sudah meranggas ditinggalkan. Hal tersebut diakui para petani kopi. “Ada beberapa lahan yang baru dibuka pada ketinggian yang lebih tinggi. Tapi, lahan itu tidak bagus untuk ditanami kopi karena terlalu tinggi,” kata Win Irbi. Center for International Forestry Research (CIFOR), sebuah lembaga riset lingkungan hidup, menemukan bahwa pada 2050 jumlah lahan untuk tanaman kopi Arabika akan berkurang hingga 80 persen.

*Foto cerita ini merupakan hasil program Balik Layar Mentorship selama Desember 2021 hingga Juli 2022 dengan dukungan dari Pewarta Foto Indonesia

Profil Fotografer:

Riska Munawarah, seorang fotografer dokumenter yang tinggal di Aceh. Pada 2019 ia terpilih sebagai salah satu penerima Permata Photojournalist Grant 2019. Foto cerita yang ia kerjakan selama program tersebut mendapatkan penghargaan sebagai Karya Terbaik PPG 2019. Beberapa karyanya telah dipamerkan di Insumatra Photo Festival (2019) dan Solo Photo Festival (2020).

Instagram: @riskamunawarah

Leave a Reply

Your email address will not be published.