Pasar Pabean, sebuah pasar legendaris yang telah berdiri sejak tahun 1849 pada masa penjajahan Hindia Belanda, denyut aktivitas perdagangan masih terasa kuat hingga hari ini. Dahulu, pasar ini menjadi salah satu pusat distribusi penting bagi berbagai komoditas, terutama rempah-rempah yang diangkut melalui jalur air Sungai Kalimas. Perahu-perahu layar dari berbagai daerah membawa hasil bumi yang kemudian diperdagangkan di pasar ini, menjadikannya simpul ekonomi yang vital pada masanya. Kini, meskipun zaman telah berubah, Pasar Pabean tetap eksis sebagai pasar induk yang dikenal luas sebagai pusat penjualan sayur-mayur dan ikan, dengan suasana yang selalu ramai oleh aktivitas jual beli sejak pagi hari.
Di balik kesibukan tersebut, terdapat sosok-sosok perempuan tangguh asal Madura yang bekerja sebagai buruh angkut. Mereka memainkan peran penting dalam kelancaran distribusi barang di dalam pasar. Dengan kekuatan fisik yang luar biasa, para buruh angkut ini mampu membawa beban hingga lebih dari 50 kilogram di atas kepala mereka. Mereka berjalan dengan lincah melewati lorong-lorong sempit pasar, mengantarkan barang dari truk ke toko, atau dari toko ke pembeli. Keberadaan mereka tidak hanya menjadi pemandangan yang khas, tetapi juga menjadi tulang punggung dalam sistem logistik tradisional yang masih bertahan di pasar tersebut.
Salah satu dari mereka adalah Sulimah (57), yang telah mengabdikan hidupnya selama lebih dari 30 tahun sebagai buruh angkut. Sejak suaminya meninggal dunia, ia menjadi satu-satunya pencari nafkah bagi keluarganya. Dengan penghasilan sekitar Rp5.000 untuk setiap angkutan, yang terkadang bisa lebih tergantung pemberian pelanggan, Sulimah bekerja tanpa mengenal hari libur. Meski hidup dalam keterbatasan dan tanpa jaminan kesehatan seperti BPJS, ia tetap berjuang keras demi memastikan anaknya dapat mengenyam pendidikan hingga perguruan tinggi. Kisahnya mencerminkan keteguhan dan pengorbanan seorang ibu dalam menghadapi kerasnya kehidupan.
Selain Sulimah, ada pula buruh angkut lain seperti Sumridah (40) dan Sunnah (39) yang memiliki cerita perjuangan serupa. Mereka menerima upah harian berkisar antara Rp60.000 hingga Rp70.000, atau bayaran kecil per angkut. Dengan kondisi kerja yang berat dan tidak menentu, mereka tetap bertahan meskipun harus bekerja dalam keadaan sakit. Ketiadaan perlindungan kesehatan membuat mereka harus mengandalkan pengobatan sederhana atau fasilitas kesehatan seadanya. Namun, demi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dan membiayai pendidikan anak-anak mereka, pekerjaan ini tetap menjadi pilihan utama yang sulit ditinggalkan.
Secara keseluruhan, pekerjaan buruh angkut di Pasar Pabean merupakan bagian dari sektor informal yang masih minim perhatian terhadap aspek keselamatan dan kesehatan kerja. Penelitian menunjukkan pentingnya penerapan prinsip ergonomi untuk menyesuaikan beban kerja dengan kemampuan fisik pekerja, guna mengurangi risiko cedera dan gangguan kesehatan. Namun, kenyataannya para buruh angkut ini belum mendapatkan perlindungan yang memadai, baik dari segi hukum maupun organisasi yang menaungi mereka. Tanpa adanya paguyuban atau jaminan sosial, mereka tetap berada dalam kondisi rentan. Meski demikian, semangat dan ketangguhan para perempuan ini terus menjadi bukti nyata perjuangan hidup di tengah kerasnya realitas ekonomi perkotaan.












