
Oleh: Audy Mirza Alwi
Teman-teman pewarta foto sering bertanya kepada saya, ‘Kok web Antara Foto sekarang beda sih? Foto-fotonya tidak sebanyak dan bervariasi seperti dulu.’ Dulu, teman-teman pewarta foto, bebas dan sering menyiarkan foto-foto Antara. Sekarang mereka mengeluh, karena tidak bisa melakukan hal seperti itu lagi.
Teman-teman pewarta foto yang juga adalah pelanggan foto Antara mungkin tidak tahu, bahwa sekarang Antara Foto sudah beda, sudah melewati periode bersejarahnya. Yakni periode Redaksi Foto dipisah dari Redaksi Umum. Saya mengalaminya, pada sekira akhir tahun 80-an.
Saat itu pimpinan Antara adalah Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi, almarhum Handjojo Nitimihardjo, dan Wakil Pemimpin Redaksi Parni Hadi. Redaksi Foto dipisah dari Redaksi Umum untuk dibentuk menjadi Biro Foto.
Mengapa Biro Foto? Karena saat itu Redaksi Foto kerjanya sudah tidak melulu liputan foto saja, tidak melulu menyiarkan foto-foto luar negeri milik kantor berita UPI (United Press International). Redaksi Foto diubah menjadi Biro Foto, supaya bisa mengelola foto-foto hasil liputan, mendokumentasikan, dan memasarkannya ke berbagai media.
Redaksi Foto diubah menjadi Biro Foto, menjadi seperti biro-biro Antara lainnya di daerah, seperti Antara Biro Padang, Biro Bandung dan sebagainya. Dengan dibentuknya Biro Foto, maka didalamnya ada Redaksi Foto, Bagian Teknik, Bagian Dokumentasi dan Pemasaran.
Setelah Redaksi Foto diubah menjadi Biro Foto, kemudian direkrut wartawan foto baru. Mengapa? Karena sebelumnya wartawan foto Antara selalu diambil dari Redaksi Umum, atau wartawan teks dimutasi menjadi wartawan foto. Wartawan foto baru itu lalu dididik melalui kursus yang disebut Susdafo (Kursus Dasar Fotografi).
Saya adalah wartawan foto Antara Susdafo Angkatan 1. Bersama saya ada Hermanus Prihatna, Yayat Soelaeman dan Aris Budiman. Setelah lulus Susdafo, lalu Wartawan foto baru ditugaskan meliput liputan harian, menyiarkan foto-foto luar negeri milik kantor berita Reuters dan AFP, dan melakukan siaga kalau ada liputan mendadak.
Meskipun sudah tidak berada dibawah Redaksi Umum, tetapi untuk liputan, Biro Foto masih berkoordinasi dengan Redaksi Umum untuk liputan bidang Politik, Ekonomi, Internasional, Olahraga dan lainnya. Liputan dilakukan di dalam maupun luar negeri, bersifat nasional maupun internasional, dan terjadwal maupun tidak terjadwal.
Setelah Biro Foto berjalan, ternyata banyak kemajuan didapat, seperti jumlah pelanggan foto yang bertambah, dan kinerja wartawan foto yang semakin meningkat. Peralatan kerja pun menyesuaikan teknologi yang ada, seperti kamera manual yang sudah tidak digunakan lagi. Diganti dengan kamera otomatis.
Lalu alat pengirim foto tidak menggunakan foto cetakan melainkan negatif film. Dan, pengiriman foto kepada pelanggan tidak menggunakan jasa kurir lagi, melainkan menggunakan komputer melalui jalur internet.
Seiring perkembangan zaman, peristiwa yang diliput ternyata jumlah nya bertambah, dan semakin beragam pula. Sementara, wartawan foto yang ada jumlahnya sudah tidak mencukupi lagi.

Sehingga dibutuhkan penambahan wartawan foto baru melalui Susdafo 2. Penambahan wartawan foto baru dan tenaga kerja lain, seperti editor foto dan petugas alih foto digital, ternyata menuntut ruangan yang besar. Belum lagi tugas wartawan foto yang juga tidak hanya meliput melainkan juga melakukan pameran atas foto-foto hasil liputannya. Karena itu, ruangan Biro Foto dipindah dari lantai 20 Wisma Antara, Jalan Medan Merdeka Selatan no 17, Jakarta Pusat, ke gedung lama Kantor Berita Antara, di jalan Antara 55, Pasar Baru, Jakarta Pusat.
Di kantor yang baru, ruang Biro Foto berada satu gedung dengan ruang pamer foto Galeri Foto Jurnalistik Antara (GFJA), yang dikomandani wartawan foto senior Oscar Motuloh, yang bertugas tidak hanya mengelola pameran, melainkan juga menyelenggarakan pendidikan fotografi.
Setelah berkantor di Pasar Baru, bisnis pun kemudian berkembang. Biro Foto tidak hanya menjual foto, melainkan juga jasa lainnya, seperti cuci film dan cetak foto berwarna menggunakan laboratorium milik sendiri, dan pembuatan buku-buku fotografi. Ditambah website yang diluncurkan yang diberi nama www.antarafoto.com.
Website itu bisa menampilkan semua foto hasil liputan, dan dokumentasi. Foto-foto dalam website dapat diunduh oleh pelanggan Antara maupun masyarakat umum secara berbayar. Dalam website itu pun tersedia tempat untuk perusahaan dapat mempromosikan produk dan jasanya dengan cara beriklan. Dari usaha yang terus maju itu, maka sekira awal tahun 2000, Biro Foto kemudian diganti namanya menjadi Divisi Mandiri Foto.
Pada sekira tahun 2020, saat pimpinan Antara berganti, dengan visi dan misinya yang berbeda dari pimpinan Antara sebelumnya, kembali Divisi Mandiri Foto diubah lagi. Divisi Mandiri Foto diubah menjadi Redaksi Foto, dengan struktur berada dibawah Redaksi Umum lagi.
Hal ini agar Redaksi Foto lebih fokus pada pemberitaannya, dan liputan foto juga sejalan dengan pemberitaan Redaksi Umum. Bagian Teknik, Keuangan dan Pemasaran Divisi Mandiri Foto kemudian digabung dengan Bagian Teknik, Keuangan dan Pemasaran yang ada di kantor pusat, di Wisma Antara.
Dari perubahan Divisi Mandiri Foto menjadi Redaksi Foto, maka berakhirlah periode kemandirian Redaksi Foto selama kurang lebih 30 tahun. Berakhir juga periode bersejarah Redaksi Foto Kantor Berita Antara.
Disarikan dari buku karya sendiri berjudul:
LINIMASA PEWARTA FOTO KANTOR BERITA




