Perwakilan keluarga mencuci kaki dan tangan usai melakukan ritual entas entas. Mencuci tangan dan kaki sebagai simbol pembersihan diri para keluarga usai mengantarkan roh leluhur ke nirwana. Fully Syafi
Perwakilan keluarga mencuci kaki dan tangan usai melakukan ritual entas entas. Mencuci tangan dan kaki sebagai simbol pembersihan diri para keluarga usai mengantarkan roh leluhur ke nirwana. Fully Syafi
Oleh: Fully Syafi | PFI Malang
Suku Tengger yang berdiam di empat wilayah kabupaten yaitu Probolinggo, Pasuruan, Lumajang dan Malang mempunyai ikatan spritual kuat dengan Gunung Bromo di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Mereka mempunyai berbagai macam ritual yang menjadi ciri khas suku Tengger. Salah satunya adalah upacara adat Entas-entas di desa Ngadas , kecamatan Poncokusumo, kabupaten Malang. Entas entas merupakan ritual sakral tentang kematian, dimana arwah atau atma orang yang telah meninggal diangkat, disucikan yang dipimpin oleh seorang phandita. Entas-entas merupakan upacara selamatan terakhir orang yang meninggal untuk menyempurnakan atma leluhur masuk ke alam kelanggengan atau nirwana. Saat proses entas entas, setiap atman atau roh disimbolkan oleh sebuah ‘petra’. Entas entas biasanya dilakukan 1000 hari usai kematian atau minimal 44 hari setelah kematian. Pelaksanaan ritual entas entas membutuhkan biaya yang tidak sedikit, karena itu entas entas sering dilakukan secara kolektif untuk menghemat biaya.
Saat ritual entas entas banyak kelengkapan yang harus dipersiapkan diantaranya adalah kain putih, bebek, cobek, beras, kulak. Selain itu, juga menyediakan sebuah boneka yang diberi nama Petra, sebagai tempat kembalinya roh atau adma. Adapun pembuatan boneka itu menggunakan bahan dedaunan dan bunga, kemudian nantinya akan disucikan oleh pemuka adat. Masing-masing benda yang digunakan sebagai sarana upacara tersebut mempunyai makna tersendiri bagi warga Ngadas.
Ada beberapa tahapan prosesi yang dilakukan, diantaranya yaitu, mengisi kulak atau bumbung yang terbuat dari bambu itu dengan beras. Kemudian, semua keluarga kumpul dibawah kain putih panjang yang dibentangkan oleh dukun setempat. Setelah itu, dilakukan prosesi Entas-entas. Inti dari upacara ini, bagi warga Ngadas yaitu untuk mengembalikan manusia kepada unsur alaminya, yaitu tanah, kayu, air dan api. Ritual ini tidak hanya bertujuan untuk menyucikan roh, tetapi juga sebagai bentuk penghormatan dan pengingat bagi keluarga yang ditinggalkan
Atma atau roh yang dientas diwakili oleh orang yang masih hidup, meskipun itu tidak ada hubungan saudara. Adapun salah satu persyaratan warga yang mau mewakili adma tersebut tidak boleh memakai baju, untuk yang perempuan diharuskan memakai kemben, atau pakaian tradisional pembungkus tubuh wanita yang secara historis umum ditemui di daerah Jawa dan Bali. Ritual dimulai dengan membentangkan kain putih panjang menutup kepala perwakilan atma dengan iringan gamelan yang memberikan suasana khidmat dan mistis. Puncak dari upacara entas entas adalah ritual Lukatan, yaitu petra dibongkar dan diletakkan didalam gerabah bersanding dengan perwakilan keluarga. Petra kemudian dibakar bersamaan dengan membakar rambut perwakilan keluarga yang dilakukan oleh dukiun adat.
Tradisi ini bukan hanya sekedar upacara kematian biasa seperti di daerah-daerah lainnya. Di balik pelaksanannya, Entas-entas memiliki makna yakni mengembalikan kembali unsur-unsur penyusun tubuh manusia. Unsur-unsur tersebut ialah tanah, kayu, air, dan panas.
Makna yang diambil dari tanah, yaitu setiap ada manusia yang meninggal akan dikubur di dalam tanah. Selanjutnya adalah kayu. Sebab, untuk menandai lokasi orang meninggal menggunakan kayu yang ditancap bahkan ditanam sebagai nisan.
Lalu ada air yang digunakan untuk memandikan yang meninggal. Dengan kata lain sebagai pembersih. Juga sekaligus sebagai penghormatan kepada Dewa Baruna, dewa air. Terakhir ada panas. Untuk mengembalikan unsur yang satu ini caranya adalah dengan dibakar.
Boneka petra yang sudah dibuat tadi akan dibakar. Cara pengembalian unsur panas ini hampir sama dengan upacara Ngaben di Bali. Namun, bedanya adalah jika di Entas-entas hanya membakar boneka petranya saja.
Discussion about this post