Deburan ombak saling bersahutan di tepi laut berpadu dengan semilir angin lembut bagai senandung yang menggambarkan kehidupan masyarakat Wakatobi.
Surga bahari yang terletak di bagian tenggara Sulawesi ini tidak hanya terkenal dengan keindahan alamnya, tetapi juga tradisi, budaya, dan sejarahnya yang begitu erat dengan samudera.
Wakatobi merupakan salah satu dari 17 kabupaten dan kota yang berjarak 377,8 kilometer dari Ibu Kota Provinsi Sulawesi Tenggara, Kendari, dengan waktu tempuh sekira delapan jam menggunakan transportasi laut.
Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), 89 persen wilayah Kabupaten Wakatobi merupakan kawasan pesisir sedangkan daratannya seluas 473,62 meter persegi. Angka tersebut menunjukkan laut sebagai urat nadi masyarakat Wakatobi.
Selain itu, Wakatobi juga merupakan salah satu Taman Nasional yang telah ditetapkan sebagai cagar biosfer sejak tahun 2012 oleh United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) yang memiliki keunikan karena mencakup seluruh wilayah administratif dari kabupaten Wakatobi itu sendiri dengan pengelolaan berbasis kolaborasi antara aturan pemerintah dan nilai nilai adat.
Dahulu saat teknologi navigasi belum canggih, laki-laki Wakatobi mengandalkan kemampuan membaca arah melalui angin dan bintang untuk melaut. Demi mencari nafkah, mereka nyaris menghabiskan seluruh waktunya mengarungi samudera.
Ketika para lelaki berada jauh di lautan, maka perempuan mengambil peran ganda di daratan. Wowine, julukan bagi para perempuan Wakatobi tersebut bukan hanya dituntut menjadi seorang ibu, melainkan juga berperan sebagai ayah dalam keluarga.
Wowine Wakatobi memiliki keyakinan bahwa keselamatan suami di perantauan bergantung pada kekuatan sang istri dalam menjaga rumah. Untuk menyiasati hidup kala sang suami berjuang menaklukkan samudera, beragam aktivitas pun dilakukan.
Proses mereka menjalani kehidupannya pun menjelma menjadi sebuah keistimewaan dan tradisi yang membentuk identitas perempuan Wakatobi sebagai perempuan maritim.
Tercatat pada tahun 2024, sebanyak 25.741 orang atau 42,04 persen dari jumlah populasi masyarakat Wakatobi adalah perempuan. Artinya, populasi perempuan hanya selisih delapan persen dari jumlah penduduk laki-laki. Dengan demikian, perempuan dinilai memiliki peranan vital tidak hanya dalam keluarga namun juga di segala lini kehidupan.
Bahkan bagi masyarakat setempat, perempuan bukan sekadar anggota keluarga melainkan simbol kehormatan dan kebanggaan.
Setidaknya sekali dalam seumur hidup, gadis yang beranjak dewasa akan mengikuti sebuah ritual sakral bernama Kansoda’a. Dalam proses ini, sang gadis yang telah dipakaikan busana adat setempat dengan mahkota khas terdiri dari susunan bunga, didudukkan di atas tandu kayu dan diarak berkeliling kampung. Tradisi ini menggambarkan peralihan kedewasaan perempuan dan kesiapan menjalani hidup.
Berangkat dari situlah, pemerintah setempat menggagas sebuah perhelatan khusus bertajuk ‘Festival Wowine’ sebagai wadah bagi perempuan berkumpul dengan menampilkan Tradisi Hekente sebagai gelaran pamungkas. Tradisi tersebut merupakan aktivitas mencari ikan secara tradisional yang dilakukan kaum perempuan Wakatobi saat air surut menggunakan tombak kayu guna membantu ekonomi keluarga sekaligus sebagai simbol kemandirian perempuan.
Setelah sekian kali diselenggarakan, Festival Wowine akhirnya mampu mendapat pengakuan dari Kementerian Pariwisata Republik Indonesia dengan terpilih menjadi salah satu dari 110 acara pariwisata unggulan Indonesia pada Karisma Event Nusantara (KEN) pada tahun 2025.
Dengan gelaran budaya tersebut diharapakan tidak hanya menjadi wadah apresiasi yang menyoroti peran perempuan tetapi juga sebuah itikad baik dalam memberdayakan perempuan sebagai penjaga tradisi, penggerak ekonomi, dan pelestari lingkungan laut yang merupakan nyawa dari Wakatobi.













