Pewarta Foto Indonesia | PFI
  • PROFIL
    • Sejarah Pewarta Foto Indonesia
    • Visi Misi Pewarta Foto Indonesia
    • AD ART
    • Kode Etik PFI
    • Pengurus Pewarta Foto Indonesia (PFI) Pusat 2025-2028
  • PFI KOTA
    • PFI Aceh
    • PFI Bandung
    • PFI Bogor
    • PFI Jakarta
    • PFI Jambi
    • PFI Batam
    • PFI Lampung
    • PFI Makassar
    • PFI Malang
    • PFI Medan
    • PFI Padang
    • PFI Palembang
    • PFI Palu
    • PFI Pekanbaru
    • PFI Pontianak
    • PFI Semarang
    • PFI Solo
    • PFI Surabaya
    • PFI Timika
    • PFI Tangerang
    • PFI Yogyakarta
  • ANGGOTA
    • Data Anggota
    • Data Kompetensi Pewarta Foto
  • PROGRAM
    • APFI
      • Tentang APFI
      • APFI 2009
      • APFI 2010
      • APFI 2011
      • APFI 2012
      • APFI 2013
      • APFI 2014
      • APFI 2015
      • APFI 2016
      • APFI 2017
      • APFI 2018
      • APFI 2019
      • APFI 2021
      • APFI 2022
      • APFI 2023
      • APFI 2024
      • APFI 2025
      • APFI 2026
    • Uji Kompetensi
      • Angkatan I
      • Angkatan II
      • Angkatan III
    • Mentorship
      • Mentorship 2020
        • Berita
        • Project Team
        • Tim Seleksi
        • Mentor dan Co-Mentor
        • Peserta
        • Mitra
    • ToT
  • BERITA
    • Berita PFI
    • Surat dan Siaran Pers PFI
    • Kegiatan PFI
    • Video
  • RANA
  • PENA
No Result
View All Result
Pewarta Foto Indonesia | PFI
  • PROFIL
    • Sejarah Pewarta Foto Indonesia
    • Visi Misi Pewarta Foto Indonesia
    • AD ART
    • Kode Etik PFI
    • Pengurus Pewarta Foto Indonesia (PFI) Pusat 2025-2028
  • PFI KOTA
    • PFI Aceh
    • PFI Bandung
    • PFI Bogor
    • PFI Jakarta
    • PFI Jambi
    • PFI Batam
    • PFI Lampung
    • PFI Makassar
    • PFI Malang
    • PFI Medan
    • PFI Padang
    • PFI Palembang
    • PFI Palu
    • PFI Pekanbaru
    • PFI Pontianak
    • PFI Semarang
    • PFI Solo
    • PFI Surabaya
    • PFI Timika
    • PFI Tangerang
    • PFI Yogyakarta
  • ANGGOTA
    • Data Anggota
    • Data Kompetensi Pewarta Foto
  • PROGRAM
    • APFI
      • Tentang APFI
      • APFI 2009
      • APFI 2010
      • APFI 2011
      • APFI 2012
      • APFI 2013
      • APFI 2014
      • APFI 2015
      • APFI 2016
      • APFI 2017
      • APFI 2018
      • APFI 2019
      • APFI 2021
      • APFI 2022
      • APFI 2023
      • APFI 2024
      • APFI 2025
      • APFI 2026
    • Uji Kompetensi
      • Angkatan I
      • Angkatan II
      • Angkatan III
    • Mentorship
      • Mentorship 2020
        • Berita
        • Project Team
        • Tim Seleksi
        • Mentor dan Co-Mentor
        • Peserta
        • Mitra
    • ToT
  • BERITA
    • Berita PFI
    • Surat dan Siaran Pers PFI
    • Kegiatan PFI
    • Video
  • RANA
  • PENA
No Result
View All Result
Pewarta Foto Indonesia | PFI
No Result
View All Result

Paradigma Estetika Foto Jurnalistik Kontemporer (2-habis)

Pewarta Foto Indonesia by Pewarta Foto Indonesia
May 28, 2022
in Headline, Pena
Reading Time: 9 mins read
A A

Fotografi jurnalistik merupakan alat untuk membekukan realitas. Foto jurnalistik menjadi suatu representasi identitas yang direproduksi oleh pewarta foto dengan memediasi ruang bagi audien/masyarakat tontonan (the spectacle society). Pergeseran estetika foto jurnalistik dalam kategori open format pada kompetisi Word Press Photo 2022 ini terjadi karena perkembangan teknologi yang cepat. Keterbatasan fotografi dalam masa modernisme terdahulu itu, sekarang ini dapat tereliminasi dengan kemajuan teknologi digital fotografi yang juga mempengaruhi bentuk presentasinya. 

Di Indonesia sendiri, kategeri open format ini belum diaplikasikan dalam ajang pengharagaan tertinggi untuk pewarta foto yang diselanggarakan oleh Pewarta Foto Indonesia yakni Anugerah Pewarta Foto Indonesia (APFI). Meskipun secara praktik dilapangan banyak pewarta foto yang mempraktikan tipe dan jenis karya foto kategori open format. Kategori open format dalam World Press Photo ini menjadi sebuah estetika kontemporer bagi perkembangan foto jurnalistik.

Untuk melihat apakah foto jurnalistik termasuk dalam kaidah fotografi kontemporer, saya akan membedah beberapa karya foto jurnalistik dari pewarta foto dan fotografer documenter di Indonesia dengan menggunakan sembilan kategori jenis fotografi kontemporer yang disampaiakan Charlotte Cotton (2020) dalam bukunya “The Photograph As Contemporary Art (Fourth Edition)”.

Baca Juga

Cerita Buruh Perempuan Angkut di Surabaya yang Metropolitan

Sompo Journalist Photo Competition 2026 Resmi Dibuka

PFI Umumkan Jajaran Juri Anugerah Pewarta Foto Indonesia 2026

Kategori pertama, “if this is art”, mempertimbangkan bagaimana fotografer mengatur pertunjukan, skenario, dan kejadian untuk kamera. Gambar adalah tujuan akhir, kesaksian dari suatu tindakan yang tidak akan pernah terulang. Dalam kaidah foto jurnalistik, pewarta foto dalam kategori ini berperan penting, karena tugasnya seperti sutradara. Persitiwa yang ada didepan bidikannya layaknya pemain-pemain film. Pewarta foto haru jeli mengatur harmonisasi dari hal-hal antah-berantah yang berlangsung sepersekian detik. Namun bukan sampai di hal itu saja pewarta foto berperan, untuk kebutuhan editorial, fotografer harus mampu membuat karya “staged photography” bukan sekadar foto potraitur belaka. Staged Photogrpahy banyak yang salah kaprah menyamakan dengan fotografi panggung (stage photography). Gilles Mora menerangkan bahwa yang dimaksud sebagai Staged Photography sebagai berikut:

“When a photographer fabricates or alters the subject in front of the camera in order to obtain spesific results, he becomes in effect a director, whether working with live models or inanimate props. The directional approach emphasizes the fictional nature of the image, building on many earlier attemps in the history of photography to go beyond the limited notion of the medium of the passive recorder of objective reality and give the operator’s imagination free play“. (Mora, 1998)

Secara singkat dapat disimpulkan bahwa staged photography adalah sebagai upaya fotografer untuk menata dan mengatur subjek, teknik fotografi, alur narasi untuk menampilkan perubahan-perubahan yang terjadi dan penyajian karya untuk masyarakat tontonan. Seperti pada gambar 1 karya foto berjudul Mafia Santri yang merupakan karya dari pewarta foto Riska Munawarah bercerita tentang kehidupan santri putri. Karya fotografi Riska ini menampilkan menampilkan praktik dari staged photography. Kemampuan Riska Munawarah sebagai sutradara yang menentukan pose, gesture, kostum, dan teknik fotografi untuk memproduksi karya tersebut. 

Kategori kedua, “Once Upon A Time” praktik fotografi ini sering digambarkan sebagai tableau atau tableau-vivant photography: gambar yang berdiri sendiri dengan narasi piktorial yang dimuat ke dalam bingkai tunggal. Sutrisna dan Sabana (2015) menambahkan bahwa terkait kategori ke dua ini berkontribusi besar dalam ide estetika fotografi dengan karya-karya yang terwakili dalam ranah ini, meliputi berbagai ilustrasi buku, foto-foto reklame dalam ukuran besar, foto-foto aktivitas manusia yang pencahayaannya dramatis.

Beberapa buku tentang Fotografi. Foto: Koleksi pribadi

Posisi foto jurnalistik dalam kategori ini sangat erat kaitnya dengan fungsi foto jurnalistik yang terkadang karya fotonya digunakan untuk kebutuhan komersial. Misalnya seperti dalam pembuatan buku foto, buku teori fotografi, dan lain sebagainya. Kebutuhan karya foto jurnalistik terutama untuk penempatan sampul depan sebuah buku, sangatlah selektif.. Pemilihan karya foto jurnalistik kaitanya dengan kebutuhan ilustrasi buku sangatlah selektif, desainer dan si pencipta buku itu harus memilih karya foto yang dapat mewakali seluruh isi buku itu baik secara estetika fotografi maupun konten yang dimuat dalam karya foto jurnalistik. Kerja antara tim editorial buku, desainer buku, pewarta foto dan pencipta buku itu sendiri harus melebur menjadi satu kesatuan.

Selanjutnya kategori tiga memberikan sumbangsih besar untuk estetika fotografi. “Deadpan” yang memiliki hubungan dengan masalah seni fotografi bertema drama visual atau hiperbola. Foto-foto dalam kategori ini sering mengundang pemirsa untuk merenungkan interkoneksi antara dunia buatan dan alam. Tema umum ini merupakan bentuk “Theatricality” dari aksi manusia. 

Estetika “deadpan” ini sangat popular pada tahun 1990an, dengan spesifikasi menggunakan landscape dan arsitektural sebagai subjek atau pendekatan utama. Karya berjudul Towards New Landscapes dari seorang fotografer lepas berbasis di Yogyakarta, Kurniadi Widodo menjadi salah satu contoh karya untuk kategori ini. Karya tersebut merupakan on going project yang dimulai dari tahun 2018 hingga saat ini. Towards New Landscapes merupakan karya fotografi yang menggunakan pendekatan landscape dan arsitektural. Karya yang pernah dipamerkan di Biennale Jogja XVI Equator #6 2021 itu bercerita tentang kemampuan fotografi sebagai upaya untuk menangkap fenomena pariwisata kontemporer di Indonesia beberapa tahun terakhir dan pengaruhnya terhadap berbagai isu, antara lain pembangunan ekonomi berkelanjutan, perubahan fungsi lahan dan ruang, dan persepsi identitas diri, serta dampak lain yang ditimbulkan yang belum dipetakan.

Sementara itu, kategori ke empat “Something and Nothing” menunjukkan bagaimana fotografer kontemporer mengubah objek dan ruang yang paling biasa menjadi gambar yang bermakna serta menimbulkan perasaan bahwa pemandangan yang paling akrab layak untuk dipertimbangkan lebih lanjut. Sutrisna dan Sabana (2015) menjelaskan lebih lanjut bahwa kategori ini menekankan kemampuan fotografer untuk memiliki suatu gagasan seni yang berprospek imajinatif luas terhadap benda yang diaggap biasa saja seperti seperti halnya sampah di jalan, kamar, atau pakaian kotor, dll.

Waste Less
Fotografer: Sutanto Nurhadi Permana.
Sumber: permata-photojournalistgrant.org/portfolio/waste-less/ (diakses pada 16 Mei 2022, Pukul 16:06 WIB).

Konsep pemikiran kategori ke empat ini sangat penting bagi pewarta foto untuk berfikir kritis terhadap apa yang akan di rekam memlalui jendela rananya. Dengan demikian, pewarta foto tidak terjebak hanya pada ‘gambar aman’ semata dan lebih berani untuk mengeksplor hal di sekitarnya serta menanyakan kembali apa yang di rekam. Gambar 4 ini merupakan karya foto dari pewarta foto asal Bandung, Sutanto Nurhadi Permana. Karya berjudul Waste Less itu bercerita tentang ke gerakan zero waste. Sutanto Nurhadi Permana menggunakan pendekatan fotografi still life untuk mengemas konsep tersebut. Objek sampah tersebut dikemasnya secara rapi layaknya karya foto dari Sutanto Nurhadi Permana layaknya benda yang memiliki nilai jual tinggi di pusat perbelanjaan. Apa yang Sutanto Nurhadi Permana lakukan itu merupakan bentuk dari kategori ke empat “Something and Nothing”, karena sesuatu yang dianggap sederhana justru memliki nilai lebih jika kita memikirkan secara kritis apa dan kenapa itu penting untuk direkam.

Selanjutnya kategori yang ke lima ialah “Intimate Life”. Pada kategori ini lebih melibatkan tentang hubungan yang lebih intim, emosional dan personal manusia. Kategori ini lebih menitikberatkan pada tema-tema tentang kehidupan sehari-hari dilingkungan terdekat. 

Tak banyak pewarta foto yang berani mengambil tema “Intimate Life” ini karena terkadang sebagian besar pewarta foto terlalu sibuk berkutat dan ambisus pada tema-tema besar, sehingga melupakan hal-hal terdekat disekeliling kita yang sesungguhnya dapat memicu untuk membuat proyek karya foto lebih intim dan bisa berdampak besar serta nantinya karya tersebut dapat dipertanggungjawabkan baik secara jalan cerita maupun estetika fotografinya. Kategori ke lima ini bisa menjadi refleksi bagi pewarta foto untuk lebih memikirkan kembali alasan membuat sebuah proyek foto.

Tangkapan layar salah satu karya foto kategori open format di World Press Photo.
Sumber: worldpressphoto.org/collection/photo-contest/2022/yael-martinez/1  (diakses pada tanggal 17 Mei 2022, Pukul 05:47 WIB).

Kategori ke enam yakni “Moment In History” yang mendorong karya foto dokumenter ke dalam dunia seni rupa kontemporer. Sutrisna dan Sabana (2015) menambahkan pada kategori ini terdapat foto-foto dengan isu-isu dari pergolakan politik dan manusia, bencana sosial maupun ekologi. 

Secara garis besar pada kategori ini, seorang pewarta foto dituntut untuk menguasi bentuk artistik dari karya yang dikerjakkannya. Bentuk presentasi yang ada dalam kategori open format di World Press Photo menjadi contoh terbaik tentang perpaduan antara karya foto jurnalistik yang menggunakan idiom-idiom seni rupa kontemporer, sehingga memunculkan bentuk estetika baru bagi dunia foto jurnalistik. Foto jurnalistik yang sangat ortodok menemukan bentuk baru melalui pemikiran fotografi kontemporer ini (bagi yang mau menerimanya).

Kategori ke tujuh “Revived and Remade”, menjelaskan mengenai eksplorasi praktek fotografi terbarukan yang memanfaatkan kemajuan teknologi pencitraan. Jika dilihat dalam kacamata foto jurnalistik kategori ini bisa menjadi ide untuk penciptaan karya foto yang menitikberatkan pada foto-foto masa lampau (foto arsip) sebagai ide dan gagasannya. Sehingga, pewarta foto memiliki tugas untuk riset dan melakukan penelitian proyek-proyek fotografi baik jangka pendek ataupun jangka panjang. 

Kemudian ke delapan kategori “Physical and Material”. Kategori lebih memposisikan fotografi sebagai medium yang menitikberatkan aktivitas kehidupan sehari-hari yang dengan mudah dapat diabadikan pada era fotografi digital dan teknologi internet. 

Hadirnya teknologi internet dalam dunia foto jurnalistik ini sangat menguntungkan bagi kerja pewarta foto, karena mampu untuk mengirimkan berita dimanapun kapanpun selama sinyal internet ada. Dalam padangan fotografi kontemporer, hadirnya teknologi internet mempengaruhi bentuk presentasi dari foto jurnalistik. Kehadiran bentuk fisik dan material sebuah foto yang tercetak perlahan mulai menghilang dan digantikan dengan bentuk-bentuk digital yang lebih interaktif.

Gambar 9. Tangkapan layar penggunaan avatar (3D) pada karya fotografi Jonas Bendiksen berjudul The Book of Veles.
Sumber: worldpressphoto.org/collection/photo-contest/2022/Jonas-Bendiksen/4
(diakses pada 17 Mei 2022, Pukul 06:30 WIB)

Selanjutnya kategori terakhir “Photographicness” yang merupakan pengembangan dari kategori ke delapan. Kategori ini lebih mencatat bagaimana karya fotografi telah masuk ke dalam budaya digital. Dalam hal ini posisi fotografi menampilkan karya berbasis gambar yang mengacu pada konsep patung dan lukisan seperti penggunaan 3D modeling sebagai bentuk presentasi akhir dalam artian ini karya fotografi dicetak dalam bentuk 3 dimensi. 

Jika dalam foto jurnalistik, bentuk presentasi akhir 3 dimensi untuk saat ini di Indonesia sendiri belum ada. Namun, jika dilihat dari konsep cetak karya foto jurnalistik 1:1 banyak dilakukan. Dalam kategori open format ini juga ada karya foto dari pewarta foto Jonas Bendiksen yang berjudul The Book of Veles. Karya foto tersebut kisah tentang produser berita palsu di kota Veles yang menjadikannya contoh bagaimana informasi nakal dan “kebenaran alternatif” adalah kekuatan yang terus berkembang, dan yang tidak mudah dikalahkan.

Dalam karya tersebut Jonas Bendiksen menampilkan arsip-arsip foto dan foto lokasi yang ia buat. Selain itu Jonas Bendiksen juga menampilkan potret orangorang di dalamnya yang ia buat menggunakan 3D animasi (avatar) sebagai sebuah reka adegan bagaimana proses berita bohong itu diproduksi.

Evaluasi & Simpulan

Fotografi jurnalistik merupakan konstruksi realitas atas kehidupan yang mencatat perjalanan evolusi kebudayaan, karenannya foto jurnalistik tidak hadir dari ruang hampa. Kategori fotografi kontemporer yang disampaikan oleh Charlotte Cotton (2022) itu bisa menjadi panduan bagi pewarta foto untuk lebih peka serta tidak telalu kaku dalam membuat sebuah karya foto jurnalistik baik tunggal maupun cerita/esai. Fotografi sendiri sebagai ilmu terapan sangat terbuka untuk berkolaborasi dengan lintas disiplin ilmu yang secara praktik berimplikasi pada foto jurnalistik yang memicu rasa tanggung jawab akan bentuk artistik yang dipilih sebagai bentuk presentasinya

Jika ajang kompetisi bergengsi kelas internasional World Press Photo mampu menghadirkan kategori open format dalam perhelatanya. Saya rasa itu bisa menjadi contoh baik untuk diterapkan di Indonesia, baik dari segi kompetisi maupun mampu untuk terpublikasi di media-media arus utama. Dengan demikian, apa yang dilakukan itu bisa menjadi ajang apresiasi dan ruang-ruang bagi dunia foto jurnalistik di Indonesia untuk terus berkembang dan mampu bersaing di kancah

global. 

Daftar Pustaka

Cotton, C. (2020). World of Art: The Photograph as Contemporary Art (Fourth edi). Thames & Hudson Inc.

Mora, G. (1998). Photo Speak: A Guide to the Ideas, Movements, and Techniques of Photography, 1839 to the Present. Abbeville Press.

Sutrisna, M., & Sabana, S. (2015). Representasi Foto Keluarga: Ekspresi Seni

Kontemporer pada Abad ke-21. Panggung, 25(3), 279–291.

https://doi.org/10.26742/panggung.v25i3.24

World Press Photo. (2021). 2022 Contest categories.

https://www.worldpressphoto.org/contest/2022/categories
SendShareShare16Share92
Previous Post

Penjaga Gua Walet

Next Post

Pameran APFI 2022

Related Posts

PFI Surabaya Angkat Isu Adaptasi Foto Jurnalistik di Era Disrupsi

PFI Surabaya Angkat Isu Adaptasi Foto Jurnalistik di Era Disrupsi

by Pewarta Foto Indonesia
September 26, 2025
0

SURABAYA - Pewarta Foto Indonesia (PFI) Surabaya membahas tantangan dan peluang fotografi jurnalistik di tengah perkembangan teknologi digital dalam forum...

Satu Dekade PFI Bogor, Tampilkan Perjalanan Kota 10 Tahun Lewat Pameran Foto

Satu Dekade PFI Bogor, Tampilkan Perjalanan Kota 10 Tahun Lewat Pameran Foto

by Pewarta Foto Indonesia
September 23, 2025
0

BOGOR - Pewarta Foto Indonesia atau PFI Bogor menggelar pameran foto 1 Dekade PFI Bogor di Alun-alun Kota Bogor. Pameran...

PFI Tangerang Gelar PFIT Goes To Campus di UMT: Tingkatkan Kesadaran Ilmu Jurnalistik Foto

PFI Tangerang Gelar PFIT Goes To Campus di UMT: Tingkatkan Kesadaran Ilmu Jurnalistik Foto

by Pewarta Foto Indonesia
July 13, 2025
0

Kota Tangerang - Pewarta Foto Indonesia (PFI) Tangerang menggelar kegiatan PFIT Goes To Campus. Kegiatan ini meliputi seminar dan workshop...

Next Post
Pameran APFI 2022

Pameran APFI 2022

No Result
View All Result

Recent Posts

  • Cerita Buruh Perempuan Angkut di Surabaya yang Metropolitan
  • Sompo Journalist Photo Competition 2026 Resmi Dibuka
  • PFI Umumkan Jajaran Juri Anugerah Pewarta Foto Indonesia 2026
  • Verifikasi Administrasi APFI 2026: 1.831 Karya Foto Lolos ke Tahap Penjurian
  • Syiar Islam Dalam Wayang Topeng Menak Malang
  • Warna Warni Dunia Albino

    303 shares
    Share 121 Tweet 76
  • Uji Kompetensi Pewarta Foto Indonesia di FHUI Depok

    278 shares
    Share 111 Tweet 70
  • APFI 2026: Mengukuhkan Integritas Visual dan Dedikasi Pewarta Foto Indonesia

    269 shares
    Share 108 Tweet 67
  • Anugerah Pewarta Foto Indonesia (APFI) 2021 Resmi Diluncurkan

    247 shares
    Share 99 Tweet 62
  • Verifikasi Administrasi APFI 2026: 1.831 Karya Foto Lolos ke Tahap Penjurian

    245 shares
    Share 98 Tweet 61

AFILIASI

dewan pers

Pewarta Foto Indonesia (PFI) merupakan organisasi wartawan yang terdaftar di Dewan Pers melalui SK Dewan Pers nomor: 19/SK-DP/III/2020. 

PFI juga merupakan lembaga Uji Kompetensi Wartawan berdasarkan SK Dewan Pers nomor: 24/SK-DP/IV/2022.

Selain itu, PFI terdaftar di Kemenkumham dengan nomor: AHU-0000317.AH.01.08.Tahun 2020.

YOUTUBE PFI

Pewarta Foto Indonesia

Simak dokumentasi visual dan kegiatan terbaru kami.

Lihat Channel & Subscribe

KONTAK KAMI

PFI Pusat

Sekretariat
Jl. Ampera Raya No. 122A, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, 12560
www.pewartafotoindonesia.or.id pfinasional@gmai.com +62 813 8297 0161
📍 Petunjuk Arah
©2026 Pewarta Foto indonesia
Instagram Youtube
No Result
View All Result
  • PROFIL
    • Sejarah Pewarta Foto Indonesia
    • Visi Misi Pewarta Foto Indonesia
    • AD ART
    • Kode Etik PFI
    • Pengurus Pewarta Foto Indonesia (PFI) Pusat 2025-2028
  • PFI KOTA
    • PFI Aceh
    • PFI Bandung
    • PFI Bogor
    • PFI Jakarta
    • PFI Jambi
    • PFI Batam
    • PFI Lampung
    • PFI Makassar
    • PFI Malang
    • PFI Medan
    • PFI Padang
    • PFI Palembang
    • PFI Palu
    • PFI Pekanbaru
    • PFI Pontianak
    • PFI Semarang
    • PFI Solo
    • PFI Surabaya
    • PFI Timika
    • PFI Tangerang
    • PFI Yogyakarta
  • ANGGOTA
    • Data Anggota
    • Data Kompetensi Pewarta Foto
  • PROGRAM
    • APFI
      • Tentang APFI
      • APFI 2009
      • APFI 2010
      • APFI 2011
      • APFI 2012
      • APFI 2013
      • APFI 2014
      • APFI 2015
      • APFI 2016
      • APFI 2017
      • APFI 2018
      • APFI 2019
      • APFI 2021
      • APFI 2022
      • APFI 2023
      • APFI 2024
      • APFI 2025
      • APFI 2026
    • Uji Kompetensi
      • Angkatan I
      • Angkatan II
      • Angkatan III
    • Mentorship
      • Mentorship 2020
    • ToT
  • BERITA
    • Berita PFI
    • Surat dan Siaran Pers PFI
    • Kegiatan PFI
    • Video
  • RANA
  • PENA

© 2026 Pewarta Foto Indonesia | surat@pewartaindonesia.or.id