Tawanya di Zona Merah

Oleh: Jeprima | PFI Jakarta

Selasa 22 Juni 2021 saya dinyatakan positif Covid-19, sebuah klaim yang membuat saya langsung menelan ludah. Berdoa dan pasrah kepada Illahi menjadi cara pertama yang saya lakukan. Saya menghubungi istri, anak-anak, dan orang-orang terdekat untuk memberikan kabar.

Usai dua hari menjalani isolasi mandiri dirumah, saya memutuskan untuk pindah ke Wisma Atlet Kemayoran. Jaga-jaga jika nanti kondisi semakin parah. Selain itu, isolasi di Wisma Atlet merupakan pilihan saya agar keluarga tak ikut terpapar. 

Selama 11 hari tinggal di hutan beton zona merah itu, setiap saat pula saya melihat banyak anak kecil disana. Tertawa ceria meski sedang dihinggapi virus berbahaya. Ingatan saya langsung terbang, teringat Jerzy, Jenaro, dan Jenaya, anak-anak saya dirumah yang sedang lucu-lucunya.

Di berita, saya baca sebanyak 1309 anak-anak dinyatakan positif (data 3 Juli 2021). Jumlah yang besar, hampir setara kapasitas GOR Bulungan, Blok M.

Setiap pagi, aktivitas di Wisma Atlet selalu ramai. Ribuan orang berlomba mencari sinaran. Tak terkecuali anak-anak kecil. Di tengah kondisi sakit, tawa dan energi mereka masih membuncah. Ada yang bermain petak umpet, bergurau dengan orang tuanya, ikut senam, hingga berlarian kesana-kemari. Sedikit mengobati kangen saya kepada anak-anak dirumah.

Tim Nakes pun memperhatikan aktivitas mereka dengan detail, selain memeriksa rutin kesehatannya, sisi psikologi juga ikut dijaga. Tak ketinggalan asupan gizi dan nutrisi. Para nakes mengajak anak-anak bermain, bernyanyi, mewarnai, dan kegiatan ceria lainnya.

Bangunan yang tampak seram dari kejauhan ini tak melulu diisi tangis dan kesedihan. Ada harapan dan tawa diantara durja. Semoga kita semua dijauhkan dari wabah dan dijaga selalu oleh Tuhan Yang Maha Esa.

Leave a Reply

Your email address will not be published.