Sudah Saatnya Memupuk Kesadaran Kesetaraan Gender

Pewarta Foto Indonesia (PFI) Pusat kembali menggelar seri diskusi publik secara daring, Minggu malam (26/12). Diskusi ini bertema Perempuan Bersuara; Kuat di Medan Liputan.

Sebagai narasumber pewarta foto kantor berita REUTERS, Ajeng Dinar menjelaskan pengalamannya saat mendapatkan kekerasan seksual di medan liputan. Ia juga turut memberikan pesan kepada rekan-rekan sesama jurnalis agar berani bertindak dan berucap jika mengalami kekerasan seksual baik verbal ataupun non verbal. “Jangan pernah menyalahkan diri sendiri saat mendapatkan kekerasan seksual, harus segera diantisipasi dan jangan takut untuk speak up.” ucap Ajeng Dinar.

Akademisi ilmu komunikasi Ellen M Yasak memaparkan riset yang ia lakukan saat studi doktoral di Universitas Indonesia. Menurutnya, perempuan pewarta foto dituntut untuk berdiri di dua kaki atau memiliki standar ganda, yakni profesionalitas dan domestifikasi. Profesionalitas yaitu memiliki kondisi fisik prima, menguasai teknik fotojurnalistik, dan mendapatkan upah yang layak. Sedangkan domestifikasi terdiri dari aspek patriarki, diskriminasi gender, dan ibuisme.

Ellen juga mengkritisi tentang kesadaran gender di perusahaan pers. “Pelatihan (kesetaraan) gender sudah sering dilakukan, tapi saat ini masih didengungkan saja dan hanya dituliskan secara cantik oleh media, tapi pimpinan media masih belum benar-benar sadar gender atau memberikan peluang yang sama antara pewarta foto perempuan dan laki-laki.” ujar Ellen.

Ahli hukum Dewan Pers Chelsia Chan membeberkan fakta dan data mengenai jumlah kekerasan yang dialami oleh jurnalis. Ia juga menjelaskan mengenai konteks kekerasan seksual yang ternyata tidak hanya terjadi di luar ruang kerja, namun juga terjadi di dalam ruang kerja (redaksi). “Baik saat menjalankan kerja jurnalistiknya, sampai setelah mempublikasikan karya jurnalistiknya ada kekerasan yang terjadi. Ini menjadi efek domino, setelah karya diterbitkan jurnalis tetap mengalami kekerasan.” ujar Chelsia.

Chelsia juga berpesan agar wartawan seharusnya tidak sungkan untuk menuliskan kronologi apa yang dialami saat mendapati kekerasan. “Hal ini sering sekali terlupakan karena sifatnya sekarang masih verbal, Dewan Pers mendorong sebaiknya dituliskan dalam bentuk laporan.” tutup Chelsia.

Pewarta Foto Indonesia mengucapkan terima kasih kepada seluruh narasumber Ajeng Dinar, Ellen M Yasak, Chelsia Chan, dan moderator Pius Erlangga (PFI Yogyakarta), serta Dewan Pers beserta seluruh panitia yang bertugas.

Nantikan seri diskusi publik berikutnya. PFI Pusat membuka saran dan masukan terkait tema diskusi serta narasumber.

Ikuti terus update-nya di www.pewartafotoindonesia.or.id dan instagram @pewartafotoindonesia