Banjir yang melanda sejumlah wilayah di Aceh telah surut. Sungai kembali ke alurnya, genangan air berkurang dan hujan berganti dengan hari-hari yang tampak lebih tenang. Namun, bagi warga terdampak, surutnya air tidak menandai berakhirnya bencana. Justru pada fase inilah dampak banjir mulai dirasakan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Rumah warga masih tertutup lumpur, dinding mengering dengan sisa tanah yang menempel. Ada pula rumah-rumah yang terpaksa ditinggalkan karena sudah tidak layak huni. Bagi warga, kembali ke rumah bukan keputusan yang mudah, mengingat keterbatasan biaya dan tenaga untuk memperbaiki kerusakan.
Warga mulai kembali secara bertahap. Sebagian membersihkan lumpur dengan peralatan seadanya, sebagian lainnya memeriksa kondisi rumah dan lingkungan sekitar. Aktivitas pemulihan berlangsung perlahan, di tengah desa yang masih lengang.
Dampak banjir juga dirasakan pada sumber penghidupan. Ruko yang tertimbun maupun rusak, perahu nelayan hilang terbawa arus, hingga sawah dan ladang tertutup lumpur yang sulit kembali diolah. Kerusakan ini berpengaruh langsung pada keberlangsungan ekonomi keluarga dan menjadi tantangan jangka panjang bagi warga terdampak.
Di tengah keterbatasan, aktivitas sosial dan keagamaan mulai kembali berjalan. Ketika masjid dan meunasah belum dapat digunakan akibat terdampak banjir, warga melaksanakan ibadah di bawah tenda darurat. Ruang sementara ini menjadi tempat berkumpul, menjaga rutinitas, dan memperkuat kebersamaan masyarakat.
Upaya pemulihan juga dilakukan di bidang pendidikan. Sejumlah sekolah terdampak banjir, dengan ruang kelas yang tertimbun lumpur dan fasilitas belajar yang rusak. Aktivitas belajar dipertahankan untuk membantu siswa kembali beradaptasi, mengurangi kecemasan dan mencegah dampak psikologis berkepanjangan.
Banjir di Aceh menunjukkan bahwa dampak bencana tidak berhenti setelah air surut. Tantangan baru muncul bagi warga untuk membangun kembali ruang hidup yang lebih aman dan berkelanjutan.












